Boiga dendrophila annectens

Ular yang seringkali di anggap berbahaya dan sering salah idenfikasi sebagai ular weling, namun ular ini bukan ular weling atau welang


Ular Boiga dendrophila ini mempunyai nama lokal Tali Wangsa, ular ini adalah ular alboreal, tinggal di pohon dan aktif dimalam hari. Ular ini mempunyai ciri fisik tubuh yang pipih segitga yang panjang, bersisik belang belang hitam kuning (ada beberapa yang hitam putih) dengan warna hitam lebih lebar /besar dari pada warna kuningnya, mempunyai ekor kecil dan panjang yang berfungsi untuk berpegangan.

Ular ini mempunyai gigi taring  PHISTOGLYPHA yang artinya ber taring belakang. taringnya berlokasi di bagaian geraham belakang dan mempunyai bisa menengah.

Ular ini membantu petani dalam mengurani populasi burung pengganggu tanaman pertanian loooo….

untuk lebih lengkapnya,,, simak tulisan berikut

Family: Colubridae
Genus: Boiga
Species: dendrophila
Subspecies: dendrophila , annectens , divergens , gemmicincta , latifasciata , levitoni , melanota , multicincta , occidentalis
Common Names : Mangrove Snake , Mangrove Cat Snake , Gold-ringed Cat Snake , Yellow-Ringed Cat Snake , Sulawesi Mangrove Snake.
Local Names : Ular Tetak Mas , Ular Katam Tebu , Oraj Taliwangsa , Oraj Santja Manuk , Ular Chin Chin Mas , Ulentipojo , Ular Kengkang Mau , Ular Tetak Mau , Tetak Emas , Masalong , Nauksalong , Bangkit
Region : Southeast Asia (Brunei, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand, Vietnam)
Local Range : Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, NTB.
Adult Length in Metres: 1.20 m s/d 2.50 m
Habitat : Hutan bakau, dataran rendah / kaki bukit hutan tropis.
Habits : Arboreal sebagian besar Nocturnal. Dpt ditemukan melingkar / bergelantungan pd cabang pohon , sesekali mencari makan di dasar hutan, perenang handal, Jika diganggu akan membuka mulutnya cukup lebar dan membentuk posisi siaga dan jika terkena gigit maka mangsanya akan di kunyah untuk mengalirkan bisanya selain itu dpt membunuh mangsanya dgn cara membelit.
Mangsa : Burung, rodent, kadal, kodok, ikan, dan ular
Venom : Tidak diketahui
Rata2 yg dihasilkan : 8.0 mg (dry weight) pd species B.D Melanota
Efek klinis : Kemungkinan terkena bisa rendah / ringan
Efek lokal pd luka : tidak terlalu sakit dan sedikit rasa panas pd luka

Ular di sekitar kita: Lycodon Aulicus/ Common Wolf Snake

Binomial name: Lycodon aulicus
Common name: Common Wolf Snake


Scientific classification

Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Reptilia
Order: Squamata
Suborder: Serpentes
Family: Colubridae
Genus: Lycodon
Species: L. aulicus

Type: HARMLESS/ Tidak berbisa

Average Length: 30 cm; At Birth: 14 cm; Maximum: 80 cm.

Description: This type of snake is grey, brownish or black with 10-20 thin white or yellow bands. Their jet black eyes protrude slightly and the pupil is invisible. Small ones have translucent skins so that the internal organs can be seen from beneath. The head is flattish and somewhat pointed; the scales are smooth and slightly shimmering. They are small and often brightly marked ‘House Snakes’. Total eight species of Wolf Snakes have been reported in India. Warna ular kecoklatan, keabuabuan, atau hitam dengan 10-20 garis belang melintang. Selaput mata mereka yang hitam menyebabkan pupil tidak terlihat. Beberapa ular ini mempunyai bagian tertentu di badannya yang transparan hingga organ dalamnya kelihatan. Ular ini kecil dan tidak berbahaya sama sekali dan sering kali di sebut “house snake” ular rumah,

Distribution: India, Malaysia, Indonesia

Habitat: di celah bebatuan, semak belukar, persawahan, tumpukan kayu

Habits: Hidup Nocturnal / Beraktifitas dimalam hari dan pemanjat yang hebat

Young: bertelor 7-10 butir di bulan desember – januari, dan yang muda memiliki garis garis yang lebih tebal

Food: Memakan cicak / kadal

Status: Mereka seringkali dibunuh karena seringkali dianggap ular berbahaya, weling ( bungarus candidus)

Respiratory Tract Infection in Reptiles


Respiratory Tract Infection in Reptiles
In reptiles, respiratory tract infections (RTI) are caused by a bacterial infection in the lungs. RTI is generally related to improper environmental conditions, such as being kept too cold, too wet, prolonged stress due to enclosure being kept at a single temperature rather than the species’ required thermal gradient, prolonged psychosocial stress, etc. If the reptile is not otherwise being cared for properly (dirty enclosure, inadequate feedings, etc.), this can exacerbate the condition, making it more severe and prolonging recovery.

[QUOTE]Pada reptile, respiratory track infections (RTI/ INFEKSI SALURAN PERNAFASAN) disebabkan oleh infeksi bakteri pada paru-paru. RTI secara umum berhubungan dengan kondisi lingkungan yang tidak semestinya, seperti di pelihara dalam suhu yang terlalu dingin, terlalu basah, stress berkepanjangan karena di pelihara dalam satu suhu yang tetap daripada di rawat dalam gradien suhu (perbedaan suhu) yang di butuhkan, psycosocial stress yang berkepanjangan, dan lain lain. Jika reptile tidak segera di rawat secara baik ( kandang kotor, pakan yang tidak memadai ( memadai dalam segi gizi dan ukuran,dll) dapat memperparah kondisi RTI, membuatnya makin sakit dan memperlama masa penyembuhan [/QUOTE]

Symptoms and Diagnosis
Symptoms include listlessness, weight loss due to decreased appetite, swollen or bloated body, gaping, open mouth breathing, often with audible exhalations when in an advanced state. Wheezing may be heard, or clicking noises when breathing. Bubbly, stringy, or sheeting mucous appears in the mouth. The head may be held in a raised position to facilitate breathing. In snakes, the tines of the forked tongue may be stuck together. Respiratory infections in snakes are especially dangerous in those snakes who have only one functioning lung (colubrids, etc.).
When you notice signs of a respiratory infection, not only must you evaluate and correct the environmental problems, but also you must take the reptile to a reptile veterinarian to be evaluated for systemic antibiotic therapy and possibly fluid and nutritional support. If the reptile does not respond to environmental correction and the antibiotic therapy, a culture and sensitivity should be done to determine exactly what the organism(s) is and the best antibiotic to combat it. The sample is easily taken by the vet in the form of a choanal swab or, in more difficult cases, a lung washing. In rare cases, the infection may be due to a fungal infection, which requires different medications than bacterial infections.
[quote]Gejala meliputi kelesuan, penurunan berat badan karena nafsu makan berkurang, tubuh bengkak atau kembung, menganga, bernafas dengan mulut, sering dengan embusan napas terdengar saat bernafas pada stadium yang lebih parah. Suara mengi mungkin terdengan, atau suara grorok waktu bernafas. bergelembung, berlendir pada mulut. kepala di angkat untuk membantu bernafas. Di Ular, ujung lidahnya yang bercabang bisa bersatu. RTI pada ular sangatlah berbahaya apalagi ular hanya mempunyai 1 paru paru saja

Bila anda menemukan tanda2 dari RTI , tidak hanya anda harus meng-evaluasi dan memperbaiki masalah lingkungan kandang, namun anda juga harus membawa reptil anda ke dokter hewan untuk dievaluasi dengan terapi antibiotik yang tersistim dan kemungkinan penambahan cairan dan nutrisi. Jika reptike tidak merespon pada antibiotik, diambil sampel dari swab kloaka atau dalam kasus yang lebih rumit, dilakukan cuci paru paru. Dalam kasus yang sangat jarang, RTI juga bisa disebabkan oleh infeksi jamur, yang membutuhkan penanganan yang berbeda dari RTI karena bakteri[/quote]

Treating a respiratory infection requires two things: an immediate evaluation of the day and night temperatures in the reptile’s enclosure, with additional heat sources added or broken/malfunctioning equipment replaced, and the attention of a reptile veterinarian who will evaluate the reptile for systemic antibiotics and fluid replacement. In addition, if the reptile has cage mates or lives in a room where he is in line-of-sight of other reptiles or household pets, an overall psychosocial evaluation needs to be made.
Reptiles with respiratory infections should be kept in draft-free but well-ventilated enclosures maintained at the species’ daytime temperature gradient both during the day and at night. For reptiles who require a hotter basking area, the basking area temperatures do not need to be provided at night, but the higher overall gradient does. This will not only enable the reptile’s own immune system to function better, but increases the efficacy of the antibiotics.
Anorectic lizards and chelonians will need to be hand- or force-fed during this time. Snakes may be able to do fine without food over the short term, but if they begin to show signs of weight loss (a loss in mass) then they, too, will need to be force-fed. See the article on Emaciation (Starvation) Protocol for force-feeding slurry recipes.

Winter Respiratory Infections in Snakes
In the case of snakes with respiratory infection, there is one thing you can try first. Unfortunately, respiratory infections are all too common in captive snakes during the winter because their keepers fail to realize that as the outside temperatures drop, the temperatures inside the building drop, and so the heating equipment that provided sufficient heat during the summer cannot provide sufficient heat during the winter. If caught in time, just boosting the heat into the species’ proper thermal range will often take care of the respiratory infection by providing a boost to the reptile’s own immune system. If the snake was in a weakened condition to begin with, however, is coming out of hibernation, or is gravid, merely boosting the heat may not be enough. If the symptoms of infection do not disappear completely within 24 to 48 hours, get the snake to the veterinarian.
RTI Mimics
Other situations and conditions that may cause symptoms similar to respiratory infections are inclusion body disease in boas and pythons and ingestion of toxic substances – both of which require veterinary diagnosis and, in the latter case, intervention.
Choking or gagging on a piece of food or foreign object may result in temporary excess saliva. Being handled too soon after eating or drinking may result in water being regurgitated and spit out; since it is now mixed with saliva, it will be rather viscous rather than thin like plain water. If it’s too soon after eating, some food may be partially regurgitated and stuck in the throat, which may cause increased salivation. No other signs of RTI occur in these instances, so they are easily told apart from an RTI.
Some reptiles may exhibit signs of respiratory infection as a signal to you that they have been handled enough or want (or need) to be put down. My female Burmese python would start dripping saliva from her mouth in copious amounts when she’d decided she had had enough out and handling time at education events. When I saw the saliva start oozing from her mouth, I knew I needed to put her away off exhibit immediately. (An interesting note: my male Burmese would erect his anal spurs, digging them into my arm, when he was tired.)
Bottom Line
If you see the signs of respiratory infection, and it is not related to being handled too soon after eating or drinking, get your reptile to a reptile vet now – delays will result in a weaker reptile, and depending on why the RTI was allowed to set in to begin with, may prolong recovery and stress.

“yang mau pake artikel ini silahkan, tapi mohon tuliskan dari mana anda mengambil sumber tersebut”

Penggolongan jenis ular berdasarkan bentuk dan susunan gigi

“Artikel ini disusun oleh Faulana H.N, diambil dari beberapa sumber dan di translate ke dalam bahasa indonesia secara mandiri, bukan dengan google translate. Bila anda ingin menggunakan artikel ini, diwajibkan untuk mengutip sumber alamat web artikel ini.”

Dari sekian banyak ular di dunia ini , di golongkan menjadi 4 golongan berdasarkan bentuk dan susunan giginya yang berhubungan erat dengan pengolongan ular berbisa atau tidak:

1.Ular bergigi Aglyphous

Kata “glyph” diturunkan dari bahasa Yunani “Gluphe” yang berarti sebuah pahatan atau saluran beralur. Sedangkan kata “agylph” berarti “tanpa saluran beralur”. Ular ini tidak mempunyai taring dengan dengan rongga beralur untuk menyuntikkan bisa.

Ular bergigi Aglyphous (lacking grooves) tidak mempunyai gigi yang berfungsi khusus, setiap gigi mempunyai bentuk dan seringkali ukuran yang sama. Walaupun ukurannya berbeda, seperti pada ular ular pemakan burung, gigi mereka tidak berbeda dalam hal bentuk. Ular Aglyphous bukanlah ular yang berbisa. Jenis ini bisa ditemukan di keluarga python seperti python molurus.

Elaphe spp head with mouth forced open

2. Ular bergigi  Opisthoglyphous

Ular bergigi  Opisthoglyphous memiliki venom lemah yang di suntikkan oleh sepasang gigi yang ukurannya lebih besar dan pajang yang terletak di belakang “maxillae” dimana pada umumnya menekuk kebelakang dan berhunungan dengan kantong bias. Karena kedua taring bisa ini tidak terletak disusunan gigi depan bagian mulut, maka disebut dengan ular bertaring belakang. rear-fange. Untuk menyuntikkan bisa-nya, ular ini harus memasukkan mangsa lebih jauh didalam mulut terutama untuk jenis mangsa yang kecil.Ular bertaring belakang ini ditemukan pada jenis ular family Colubridae


Ular Proteroglyphous (maju berlekuk)

Ular Proteroglyphous telah diperpendek maxillae dan beberapa bantalan gigi kecuali bagian taring depan dan benar-benar dilipat di sekitar saluran racun yang membentuk jarum berongga. Karena taring hanya sebagian kecil dari satu inci panjang, bahkan dalam spesies terbesar ular ini harus bertahan, setidaknya sesaat, saat  mereka menyuntikkan racun mereka, yang paling beracun dari semua ular. Beberapa ular kobra meludahpenyembur telah memodifikas ujung taringnya memungkinkan mereka untuk menyemprot racun di mata penyerang. Bentuk gigi ditemukan pada keluarga elapids. Misalnya Ular cobra


Ular bergigi Solenoglyphous

Ular bergigi Solenoglyphous mempunyai taring yang lebih sempurna dan maju dalam mengirimkan bisa dari pada ular lain. Setiap maxilla di kurangi menjadi sebuah titik yang mendukung sebuah lubang gigi taring. Panjang taring taring tersebut dapat mencapai setengah dari panjang kepala, dilipat di bawah langit langit mulut dan saling bertemu diujungnya.  Kerangka kepala ular ini mempunyai elemen elemen yang saling berinteraksi yang memastikan taring dapat berputar dalam posisi mengigit ketika rahang dibuka. Jenis ular ini dapat membuka rahang mencapai 180 derajat dan taringnya mengayun dalam posisi yang memungkinkan untuk menyuntikkan bisa lebih dalam ditubuh mangsa. Ular jenis Solenoglyphous mempunyai  bisa yang tidak terlalu berbahaya daripada of proteroglyphs, namun ular solenoglyphous memiliki kemampuan menyuntikkan bisa yang lebih banyak dan lebih dalam daripada yang lain. Jenis gigi ini ditemukan pada ular keluarga Viper

Lycodon subcinctus

Banded Wolf Snake

Kehebohan… satu hal yang pasti terjadi bila seseorang atau sekelompok orang melihat ular di sekitarnya. Dan hal itu terjadi waktu saya sedang mengajar mapel bahasa inggris kelas 4 di Sekolah Dasar Islam Terpadu Laboratorium Bhumi Menoreh, Salaman, Magelang. Di tengah konsentrasi saya kepada siswa, saya dikejutkan dengan ketukan dipintu saya dan setelah saya buka ada sekelompok anak kelas 5 dan salah satunya mengatakan ” Mister, ada ular masuk kelas 5, ularnya hitam putih hitam putih”. Spontan saja yang terlintas dipikiran saya adalah ular berjenis Bungarus Faciatus atau secara awam di sebut ular weling.

Seperti wajarnya seekor ular, ular kecil sepanjang 30 cm dan ukuran badan tidaklah lebih besar dari ukuran polpen pilot sedang merayap di sudut sebuah ruangan. Suasana riuh di dalam kelas serta para siswa yang berkerumun disekitar ular tersebut membuat ular menjadi lebih defensive dan berbahaya. Saya meminta siswa untuk minggir dan lemudian mengambil sebuah ranting kecil untuk menekan kepala ular tersebut dan menaruhnya di sebuah botol aqua, dan di pikiran saya masih tertanam bahwa itu tersebut adalah ular weling atau Bungarus Faciatus. Ular Weling merupakan jenis ular high venom/ berbisa tinggi dan berpotensi menyebabkan kematian kepada korban gigitannya.

Keesokan harinya, setelah saya dan Korem agenda sosialisasi di SD BUNDA WACANA, hadir seorang expert dan pemeharti ular, seorang Biolog, Mbak Lydia kami memanggilnya. Dalam sela sela obrolan santai kami dengan beliau, saya tunjukkan ular yang hari sebelumnya saya tangkap dan saya meminta Mbak Lydia untuk mengidentifikasi ular tersebut. Begitu melihat wujud ular tersebut, Beliau mengatakan ular tersebut bergenus ular LYCODON Sp atau sering disebut dengan wolf snake. dan beliau menjelaskan perbedaan antara ular lycodon yang mirip weling ini dengan ular weling yang sesungguhnya dari segi fisik dan karakter.

Lycodon adalah salah satu genus ular colubridae yang sering disebut dengan wolf snake dan TIDAK BERBISA. Nama latin Lycodon diturunkan dari bahasa Yunani Lycos yang berarti Srigala dan Don yang berarti Gigi.

Ular Lycodon ini terbagi dalam 32 sub spesies di seluruh dunia dan ular yang saya temukan adalah sub spesies yang bernama lycodon subcintus ” Malayan banded Snake”.

This item is an image

Ular ini mempunyai bentuk tubuh yang ramping dan ukuran dewasa bisa mencapai 90 centimeter. Ular ini mempunyai bermotif hitam putih berbentuk cincin yang bisa berjumlah 25 cincin dan terkadang warna putih berbentuk cincin itu menembus bagian perutnya. Semakin dewasa warna cincin cincin tersebut akan semakin memudar terutama dari bagian tengah badan hingga bagian ekor. Kepala spatulate, coklat tua atau hitam. Ventrals abu-abu atau putih. Agak pendek, tapi ramping dan runcing ekor. Tukik dan remaja dengan belang keputihan luas di seluruh kepala.

Penyebaran ular lycodon ini meliputi wilayah Cina bagian selatan dan Asia tenggara. Habitat ular ini di daerah vegetasi atau semak semak dan ular ini aktif di malam hari. Ular ini juga termasuk ular alboreal maupun terestial yang artinya bisa hidup di pepohonan maupun di tanah. Makanan utama ular Lycodon ini adalah kadal kadalan kecil dan ular ini juga sering di salah identifikasikan sebagai ular Bungarus candidus (WELING ).

Ular Lycodon ini berkembang biak dengan cara bertelur berjumlah antara 5 hingga 10 telur dan menetas dalam waktu inkubasi selama 1,5 bulan

Gadung Ekor Merah ( Trimeresaurus Albolabris)


itu kesan mendalam kalau kita menatap wajah ular yang satu ini. Dengan warna dominan hijau cerah, kepala segitiga plus berbuntut warna merah yang mencolok membuat banyak makhluk termasuk manusia memilih untuk menghindarinya.

Wajar dan memang benar kalau ular ini perlu dihindari karena trimeresorus albolabris atau ular hijau ekor merah yang lebih akrab dipanggil truno bamban oleh masyarakat jawa ini temasuk keluarga viper yang berbisa kuat walau pun tidak mematikan bagi manusia. Racun ular ini mengandung haemotoxcin yang cukup kuat yang meskipun tidak mematikan, toh efek racun ular ini ke tubuh manusia tidak bisa diabaikan… selain rasa sakit yang dalam di titik gigitan, bengkak yang bertahan selama seminggu hingga pangkal lengan/kaki, efek racun ini pun seringkali masuk hingga ke lambung dan ginjal manusia.


Regnum : Animalia

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Classis : Reptilia

Ordo : Squamata

Subordo : Serpentes

Infraordo : Alethinophidia

Familia : Viperidae

Subfamilia : Crotalinae

Genus : Trimeresurus

Species : Trimeresurus albolabris Gray, 1842

Spesias yang ada di Indonesia cukup banyak, antar laen trimeresorus wagleri, T. sumatranus, T. puniceus, T albolabris, T. properum, dll…..


Ciri yang sangat menonjol dalam sub keluarga trimeresorus ini adalah adanya coretan memanjang warna merah dibagian atas ekornya. Giginya yang solenoglypha atau berbentuk engsel dapat memanjang hingga optimal 2 cm saat menggigit meski tubuhnya hanya berkurang 75 – 90 cm dengan diameter sekitar 2,5 cm maksimal.



Ular ini hidup nya arboreal atau diatas pohon untuk memangsa burung, cecak, kadal dan makhluk pohon laennya. Keluar mencari makan pada malam hari atau nocturnal, dan sering ditemukan di daerah pinggiran sawah atau ladang, hutan hujan tropis hingga ketinggan 2000 mdpl. Seperti lazimnya ular yang hidup diatas pohon, ular ini pun berreproduksi dengan ovovivipar atau mengerami telurnya didalam tubuhnya sehingga ketika keluar sudah berbentuk bayi ular.


Ular ini kadang disamakan dengan ular pucuk atau gadung pari (Drophys prasinus) yang warnanya mirip dengan di albolabris ini. Di kalangan masyarakat, semua ular hijau dianggap berbahaya, padahal sebenarnya tidak. Yang cukup berbahaya adalah ular hijau ekor merah sehingga perlu diwaspadai dan berhati hati jika bertemu dengan dia.




Tips : jangan coba-coba menangkapnya jika anda bukan ahli ular atau belum pernah menangkap ular sebelumnya. Jika tidak nyawa anda yang melayang.


Hii…., Ada Ular di PAUD IT Asy Syaffa’ 2

Kunjungan Korem (Komunitas Reptil Magelang) ke PAUD IT Asy Syaffa’ 2 membawa serta berbagai macam ular, biawak serta burung hantu. Berbagai macam ekspresi dari anak-anak saat melihat dan mencoba memegang / menggendong hewan tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 16 November 2012 yang disesuaikan dengan tema pembelajaran pada bulan ini yang salah satunya membahas tentang binatang reptil.Image